Meloncat-loncat
kesana kemari, berhenti disana-sana sini, sebutlah aku si debu lucu. Menyumbul
di fentilasi-fentilasi rumah, duduk manis di meja dan kursi rumah.Aku nyaman
dan jangan hancurkan aku.
Aku
mulai terhempas kesana-kemari, sapu-sapu dan kemoceng, menerpa tubuhku yang
ringan ini. Toh aku tetap berlari kencang-kencang dan akan hinggap kembali di
ventilasi kamarmu, dan pelan-pelan aku terus mengedap di relung hatimu yang
paling dalam.
Aku
kadang teracuhkan, aku kadang dicuekin, makanya akau datang beramai-ramai, agar
semua orang tahu bahwa aku si debu yang lucu.
Aku
hanya bersahabat akrab dengan komoceng pak Ponidi, berteman baik dengan
lubang-lubang AC, dan berlarilari kesana-kemari dengan sapu Pak Ponidi juga.
Kehadiran
ku selalu mengiringi segala kerapian, kehadiranku selalu hadir di segala
kebersihan. Dan sebutlah aku si Debu lucu yang selalu hadir dalam kehidupanmu.
Di dedikasikan untuk si Debu vulkanik gunung Kelud

view fotonya dari dalam rumah ya..., aku biasanya liat dari depan rumah hehe...
BalasHapusiya view dari dalam yang banyak abunya harus diabadikan, karena ini kejadian langka. kata bapak ku sebelumnya terjadi di tahun 1951.
BalasHapus